Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan

10 November 2009

MEMBUAHKAN BELIMBING MANIS

Belimbing manis (Averhoa carambolla), adalah buah yang penggemarnya cukup banyak. Di Malaysia, komoditas ini sudah dibudidayakan secara komersial dan hasilnya diekspor. Di Indonesia, budidaya belimbing dalam skala komersial belum dilakukan. Yang ada masih kebun-kebun rakyat yang dikelola secara tradisional. Akhir-akhir ini keberadaan belimbing manis di pasar swalayan serta kios buah sudah relatif kontinu, dibanding dengan 5 sd. 10 tahun yang lalu. Ini merupakan indikator bahwa teknologi budidaya belimbing sudah relatif dikuasai oleh masyarakat. Faktor utama yang akan menentukan sukses tidaknya budidaya belimbing adalah pengairan, pemupukan, pemangkasan dan pembungkusan. Sebab kendala hama serta penyakit tanaman tidak akan terlalu mengganggu tanaman belimbing. Satu-satunya hama yang akan mengganggu adalah lalat buah, yang oleh masyarakat, larvanya disebut sebagai "ulat" yang akan merusak buah belimbing.

Varietas belimbing manis yang ada di negeri kita cukup banyak. Di antaranya demak kapur, demak kunir, pasar minggu, dewi, wulan, bangkok, paris, sembiring, malaya, penang, filipin, brasil dll. Meskipun disebut sebagai bangkok, paris, filipin dll. tetapi varietas tersebut tidak ada kaitannya dengan kota atau negara bersangkutan. Belimbing paris misalnya, merupakan varietas asli Pasar Minggu, Jakarta selatan. Nama paris sendiri berasal dari kata belimbing (Pa)-sar Minggu yang la-(ris). Varietas-varietas lain merupakan seleksi dari belimbing yang tumbuh secara alamiah di pekarangan penduduk. Beberapa di antaranya merupakan hasil pemuliaan melalui persilangan. Misalnya belimbing wulan yang merupakan hasil silangan Subandi dari Madiun atau belimbing sembiring yang merupakan hasil silangan Sembiring dari Sumatera Utara.

Faktor pengairan menjadi sangat penting di lokasi penanaman dengan air tanah dalam. Tanaman belimbing yang sudah berumur di atas 5 tahun, perakarannya memang bisa mencapai lapisan tanah yang masih cukup mengandung air pada musim kemarau. Namun produktivitas tanaman akan menurun pada musim kemarau ini. Beda dengan belimbing yang ditanam di areal dengan air tanah dangkal. Misalnya di kawasan Kab. Demak, Jateng. Meskipun kawasan ini tanahnya berpasir, namun air tanahnya sangat dangkal. Pada musim kemarau yang sangat panjang sekalipun, kedalaman air tanah hanya sekitar 1,5 sd. 2 meter. Di kawasan seperti ini, tanaman belimbing tidak memerlukan pengairan secara khusus. Kecuali pada tanaman dengan umur di bawah 5 tahun. Pada tahun-tahun awal ini tanaman muda mutlak memerlukan pengairan. Sumber air paling murah adalah dari sumur dangkal (sumur pantek) yang dinaikkan dengan pompa sedot porttable. Biaya investasi dan modal kerja untuk pengairan ini hanya sekitar Rp 3.000.000,- sd. Rp 4.000.000,- per hektar sampai dengan tanaman cukup kuat tanpa perlu pengairan khusus.

Pemupukan belimbing manis dengan NPK 16-16-16 atau lebih baik lagi dengan NPK 19-19-19, akan menjamin kontinuitas, kuantitas serta kualitas produksi. Belimbing merupakan salah satu buah yang bisa berproduksi sepanjang tahun tanpa musim. Dengan catatan, suplai haranya terjamim. Dengen pemberian NPK antara 1 sd. 2 kg. per tanaman per tahun, maka kontinuitas produksi akan terjamin. Meskipun bisa berbuah sepanjang tahun tanpa henti, sebenarnya belimbing tetap memiliki siklus panen raya dan kosong tanpa buah. Siklus penen raya ini bisa berlangsung sampai 3 periode. Namun tanaman akan terkuras energinya hingga pada panen berikutnya kualitas serta kuantitas buah akan menurun. Karenanya, belimbing cukup diprogram untuk bisa panen raya dua kali. Caranya dengan kombinasi perlakuan pemupunan, pengairan dan pemangkasan. Biasanya petani belimbing memprogram tanaman mereka pohon demi pohon atau petak demi petak. Di perkebunan besar seperti yang terdapat di Malaysia, saat panen diatur petak demi petak. Artinya, tiap individu tanaman memang hanya diprogram untuk panen raya sebanyak 2 X. Namun seluruh kebun tersebut bisa diatur untuk bisa terus-menerus dipanen setiap hari sepanjang tahun. Pemupukan dengan NPK juga akan bisa memperbesar ukuran buah, mempermanis dan menciptakan daging buah dengan tekstur lebih renyah.

Belimbing menghendaki stress air untuk berbunga. Hingga pengaturan saat berbunga, lebih mudah dilaksanakan di kawasan kering daripada di kawasan basah. Itulas sebabnya sentra penghasil belimbing rata-rata berada di kawasan kering. Misalnya di Demak. Tuban dan Madiun. Idealnya pengairan dilakukan dengan sistem tetes (drip). Tetapi sistem ini relatif mahal. Hingga untuk kondisi Indonesia, pengairan dengan sistem siram maupun genangan masih tetap lebih murah. Sistem siram digunakan apabila debit air kecil, sementara tenaga kerja murah. Sistem genangan dilakukan apabila debit air besar tetapi tenaga kerja mahal. Satu individu tanaman, pada musim kemarau yang berlangsung antara 7 sampai 9 bulan (sesuai kondisi agroklimat yang dikehendaki belimbing), memerlukan air sekitar 10.000 sd. 15.000 liter atau 10 sd. 15 m3 (2 X 2 X 2,5 m. atau 3 X 2 X 2,5 m). Sebab untuk bisa tetap produktiv, satu tanaman belimbing dewasa memerlukan 50 liter air per hari selama musim kemarau. Keperluan air ini menjadi mutlak untuk kawasan dengan air tanah lebih dalam dari 3 m. Tetapi menjadi tidak perlu apabila air tanah kurang dari 2 m.

Pemangkasan tanaman belimbing akan sangat berpengaruh terhadap kuantitas dan terutama kualitas buah. Pemangkasan dilakukan dengan memelihara salah satu tunas air pada cabang tertentu, lalu setelah tunas air tersebut mencapai ukuran kelingking, cabang dipotong. Dengan demikian, ranting-ranting belimbing selalu dalam keadaan muda. Ranting yang muda ini akan menghasilkan daun yang lebih sehat dan lebar hingga bisa berfotosintesis dengan lebih optimal. Karena rantingnya muda, bunga akan cenderung tumbuh pada dahan utama atau malahan pada batang. Bunga betina yang tumbuh pada dahan utama ini akan menghasilkan buah dengan ukuran lebih besar daripada yang tumbuh pada ranting. Tumbuhnya bunga pada cabang utama serta batang, juga dipacu oleh sinar matahari. Pemangkasan akan mengakibatkan sinar matahari bisa langsung mengenai cabang utama serta batang. Kalau cabang utama serta batang itu terkena sinar matahari langsung, bunga akan segera tumbuh. Ranting-ranting muda tadi tidak akan sempat menumbuhkan bunga dalam jumlah banyak, karena fase pertumbuhan vegetatifnya masih berlangsung. Tumbuhnya buah pada cabang utama serta batang, sekaligus juga akan memudahkan upaya pembungkusan.

Banyak bahan yang bisa dimanfaatkan untuk membungkus buah belimbing. Perkebunan star fruits di Malaysia menggunakan kombinasi kantong plastik bening dengan kertas koran sebagai pembungkus buah. Plastik bening ditaruh di bagian dalam, sementara kertas korannya di bagian luar dengan bagian bawah terbuka. Kombinasi dua bahan pembungkus ini diperlukan dengan beberapa alasan. Kalau pembungkusnya hanya plastik bening, maka sinar matahari tetap akan menembus masuk ke dalam kantong. Akibatnya, buah muda bisa "hangus" dan rontok. Kalau buah ini selamat menjadi besar, maka warnanya akan kuning tua dan kurang menarik karena terkena sinar matahari langsung. Apabila pembungkusnya hanya kertas koran dan tidak tertutup rapat, maka ada kemungkinan penggerek buah tetap akan bisa menembus masuk dan merusak buah muda. Penggerek buah adalah kumbang kecil yang akan "mengebor" buah muda hingga busuk dan rontok. Sementara lalat buah hanya akan menyerang buah tua menjelang masak. Tetapi kalau kertas korannya membungkus dengan rapat, maka petugas kebun sulit untuk mengontrol mana buah yang siap petik dan mana yang belum. Dengan kombinasi dua bahan pembungkus ini, penggerek, lalat buah dan sinar matahari sulit menembus masuk. Sementara petugas kebun tetap mudah mengontrol buah yang sudah masak dan siap petik. Setelah dipetik, kertas koran dibuang hingga belimbing dengan bungkus plastiknya yang masih sangat bersih karena terlindung koran, bisa siap untuk dipasarkan.

Di Indonesia, sangat banyak variasi pembungkus buah belimbing. Di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, para petani membungkus belimbing mereka dengan kombinasi daun pisang kering di bagian luar, dengan kertas karbon (bekas) di bagian dalamnya. Kertas karbon dimaksudkan untuk mencegah agar sinar matahari benar-benar tidak tembus. Sementara daun pisang kering dipilih karena harganya yang murah. Tetapi sekarang orang tidak lagi mengetik dengan masin ketik manual dan karbon, melainkan dengan komputer. Hingga mencari karbon bekas tentu tidak semudah pada era tahun 1960an. Daun pisang kering juga menjadi semakin langka dan mahal. Sekarang masyarakat Pasar Minggu membungkus belimbing mereka dengan kertas koran bekas. Sementara di Kab. Demak, Jateng, petani membungkus belimbing mereka dengan daun jati. Bahan pembungkus ini dipilih karena di kawasan tersebut bisa diperoleh dengan mudah dan harga murah. Di Sumatera Selatan, para petani membungkus belimbing mereka dengan kantong kresek. Berbagai warna kantong kresek telah mereka coba hingga diperoleh hasil yang optimal. (R) * * *

07 Oktober 2009

Alpukat - Cegah Stroke & Bikin Awet Muda


REDAKAN HIPERTENSI & CEGAH STROKE

Alpukat termasuk buah-buahan yang mengandung lemak tinggi (sekitar 6,5 persen), tapi lemak tersebut merupakan lemak tak jenuh tunggal oleat, yang lazim disebut omega-9. Lemak jenis ini mampu menurunkan kelebihan “kolesterol jahat” LDL secara efektif, terutama jika kita juga membatasi konsumsi lemak jenuh. Hasilnya akan nyata kalau makan alpukat dibarengi dengan mengurangi makanan gorengan dan bersantan, serta daging berlemak, dan kuah mengandung lemak gajih

Efektivitas alpukat menurunkan kadar “kolesterol jahat” juga dipacu kandungan seratnya yang tinggi. Serat larut dalam alpukat akan menyerap kelebihan “kolesterol jahat” dan membuangnya bersama sampah makanan.
Sebuah alpukat ukuran sedang mengandung serat 10 gram. Menyantapnya sebuah saja sudah memenuhi 40% kecukupan asupan serat sehari.

Alpukat kaya mineral kalium. Separuh alpukat ukuran sedang mengandung 548 mg kalium, 15 persen lebih tinggi dari kandungan kalium dalam sebuah pisang. Kalium dapat meredakan tekanan darah tinggi, mengontrol debar jantung, dan menjaga kesehatan sistem saraf.

Kombinasi “lemak baik”, serat, dan kalium membuat alpukat mampu mencegah serangan penyakit akibat hipertensi dan kelebihan kolesterol, khususnya stroke dan penyakit jantung. Penderita diabetes pun dapat memetik manfaat tersebut untuk memangkas risiko sama, yang sering merupakan komplikasi.

Gara-gara kaya lemak, alpukat sering dituduh sebagai penyebab kegemukan. Padahal itu tidak benar. Kalau pola makan kita sudah sarat kalori, makan alpukat atau makanan apa pun tentu mudah menambah berat badan. Jika pola makan kita baik, makan alpukat tidak perlu jadi masalah. Apalagi alpukat mengandung lemak yang menyehatkan.

ANTIKERIPUT & BIKIN AWET MUDA

Kendati tidak banyak, alpukat cukup mengandung vitamin A dan klorofil. Di dalam lemaknya tersimpan banyak vitamin E. Kombinasi vitamin A, klorofil, dan vitamin E sebagai antioksidan terbukti menjaga kulit penduduk Meksiko tampak kenyal dan segar meski telah berumur. Jarang pula yang terserang kanker. Mereka amat gemar makan saus alpukat (guacamole), seperti kebiasaan kita makan sambal di sini.

Kandungan kaliumnya yang tinggi menjadikan alpukat buah pembentuk basa. Dalam teori Food Combining, makanan pembentuk basa melindungi sel-sel tubuh dari serangan radikal bebas, sehingga tidak mudah rusak. Dampak paling nyata dari sel yang terjaga adalah wajah tampak awet muda. Nah, rugi, kan, kalau kita tetap menjauhi alpukat?

Mata sering berkunang-kunang dan kepala pening? Periksakan ke dokter. Jika benar kita menderita kurang darah (Hb rendah), jangan ragu makan alpukat. Di dalam alpukat terdapat zat besi dan zat tembaga, yang berperan penting dalam pembentukan darah segar dan mencegah anemia akibat kurang gizi besi. Magnesium dan kalsiumnya membantu menjaga kesehatan tulang.

alpukat baik bagi ibu hamil. Kandungan asam folatnya amat dibutuhkan janin, agar otak dan tulang belakangnya dapat tumbuh sehat sempurna. Satu buah sedang alpukat mengandung 114 mkg asam folat, sudah memenuhi 30 persen kecukupan asam folat harian yang dianjurkan.

Selain asam folat, kandungan vitamin B-kompleks lain yang tersimpan dalam alpukat adalah vitamin B6. Penting untuk mengontrol fungsi sistem saraf. Rendahnya konsentrasi vitamin B6 dalam darah mudah menimbulkan mual-mual pada trimester pertama kehamilan. Nah, makan alpukat pada pra-kehamilan dan selama hamil dapat mencegah mual karena ngidam.

Belakangan sejumlah ilmuwan menemukan fakta baru. alpukat sarat glutation, senyawa fitokimiawi alami non-gizi yang berkhasiat. Glutation merupakan antioksidan kuat pengusir beragam kanker, khususnya kanker mulut dan tenggorokan, serta mencegah serangan jantung. Dibandingkan dengan pisang, apel, blewah, maupun anggur, kandungan glutation dalam alpukat 3 kali lipatnya.

Beta-sitoterol adalah senyawa fitokimiawi lain yang ditemukan dalam alpukat. Lemak nabati merupakan bagian “lemak baik”, khasiatnya menurunkan seluruh jenis lemak darah yang dapat memicu penyakit akibat gangguan pembuluh, khususnya stroke dan serangan jantung. Beta-sitosterol akan menormalkan kadar “kolesterol jahat”, trigliserida, maupun total lemak darah. Jumlahnya mencapai 4 kali lipat dibanding yang terdapat dalam pisang, apel, anggur, maupun blewah.

sumber :Wied Harry Apriadji, Praktisi Gizi & Kuliner

Tomat


Manfaat Buah Tomat

Tomat adalah komoditas hortikultura yang penting dan merupakan salah satu jenis sayuran yang banyak digemari orang karena rasanya enak, segar dan sedikit asam. Banyak sekali penggunaan buah tomat, antara lain sebagai bumbu sayur, lalap, makanan yang diawetkan (saus tomat), buah segar, atau minuman (juice). Buah tomat mengandung banyak vitamin (A, C dan juga vitamin B).

Diskripsi tanaman Tomat

Tanaman tomat termasuk jenis tanaman perdu semusim, berbatang lemah dan basah, daunnya berbentuk segitiga, bunganya berwarna kuning, buahnya buah buni, hijau waktu muda dan kuning atau merah waktu tua, berbiji banyak, berbentuk bulat pipih, putih atau krem, kulit biji berbulu.

Syarat Tumbuh

Tanaman tomat dapat tumbuh pada ketinggian tempat 0 - 1.250 m dpl, dan tumbuh optimal di dataran tinggi >750 mdpl. Suhu optimal untuk pertumbuhannya adalah 23°C pada siang hari dan 17°C pada malam hari. Tanah yang dikehendaki adalah tanah bertekstur liat yang banyak mengandung pasir. Dan, akan lebih disukai bila tanah itu banyak mengandung humus, gembur, sarang, dan berdrainase baik. Sedangkan keasaman tanah yang ideal untuknya adalah netral, yaitu sekitar 6 - 7.

Penyiapan Lahan Bercocok Tanam Tomat

Untuk bercocok tanam tomat dipilih lahan gembur, subur dan sebaiknya sebelumnya tidak ditanami tomat atau tanaman satu famili, seperti : cabai, terong, tembakau dan kentang. Bila pH tanah rendah diberi kapur dolomite 150 kg/1000 m2 dan disebar serta diaduk rata pada umur 2-3 minggu sebelum tanam. Buatlah bedengan selebar 120-160 cm untuk barisan ganda dan 40-50 cm untuk barisan tunggal. Untuk drainase dibuat parit selebar 20-30 cm diantara bedengan dengan kedalaman 30 cm untuk pembuangan air. Berikan pupuk kandang sebanyak 10 - 20 ton/ha yang dicampur dengan tanah secara merata. Bila menggunakan mulsa plastik, tutup bedengan pada siang hari. Lubang tanam dibuat dengan jarak 60 x 80 cm atau 60 x 50 cm di atas bedengan, diameter 7-8 cm sedalam 15 cm.

Sterilisasi tanah media dilakukan dengan memberikan bahan kimia Besamid 3 G dengan dosis 70 gram untuk media tanam sebanyak 1m3 atau menggunakan formalin 4%.

Pengadaan Benih Tomat

Pengadaan benih tomat dapat dilakukan dengan dua cara, yakni dengan membeli benih yang siap semai atau dengan membuat benih sendiri. Apabila pengadaan benih tomat dilakukan dengan cara membeli, hendaknya membeli di toko pertanian yang terpercaya menyediakan benih yang bermutu dan bersertifikat. Pengadaan benih yang dilakukan dengan membuat sendiri adalah sebagai berikut: 1) Pilih buah tomat dari tanaman tomat yang petumbuhannya dan produksinya yang bermutu baik. Buah yang dipilih adalah buah tomat yang telah masak dan tua dan masak di pohon. Buah sehat dan tidak terserang hama ataupun penyakit. 2) Buat setelah dipetik dibiarkan sampai merekah dan berair (2 - 3 hari). 3) Biji-biji diambil setelah buah tomat merekah dan cucilah dengan air bersih, kemudian dikeringkan sehingga kadar airnya paling tinggi 12%. Biji-biji tomat yang telah dikeringkan dapat langsung disemaikan atau disimpan terlebih dahulu dalam wadah, misalnya kaleng atau botol kering sambil menunggu saatnya untuk disemaikan.

Pembibitan Tomat

Tanaman tomat berkembang biak secara generatif atau melalui biji, maka perbanyakan bibit tomat dilakukan dengan bijinya. Sebelum ditanam di kebun, biji-biji tomat sebaiknya disemaikan terlebih dahulu di tempat persemaian. Pemindahan bibit ke lapang dilakukan sewaktu bibit berumur 1 bulan atau daunnya telah berjumlah 4 helai. Varietas yang dianjurkan adalah varietas Gondol, Intan, Ratna dan Berlian. Kebutuhan benih 200 – 300 gram/ha.

Penanaman

Bibit siap tanam beruumur 3 - 4 minggu, berdaun 5-6. Sehari sebelum penanaman sebaiknya bedengan diairi dahulu. Sulam tanaman yang mati sampai berumur 2 minggu, caranya tanaman yang telah mati, rusak, layu atau pertumbuhannya tidak normal dicabut, kemudian dibuat lubang tanam baru. Penyiraman dilakukan tiap hari sampai tomat tumbuh normal (Jawa : lilir), namun tidak berlebihan karena tanaman bisa tumbuh memanjang, tidak mampu menyerap unsur-unsur hara dan mudah terserang penyakit. Ajir dipasang sedini mungkin supaya akar tidak rusak tertusuk ajir dengan jarak 10-20 cm dari batang tomat.

Pemupukan

Pupuk yang digunakan untuk 1 Ha adalah urea 150 kg, TSP 100 kg dan KCL 50 kg. Pemupukan TSP dan KCL diberikan pada saat tanam dan urea diberikan 14 hari setelah tanam sebanyak 75 kg dan sisanya 35 hari setelah tanam.

Penyiangan

Penyiangan dapat dilakukan dengan mencabut gulma menggunakan tangan atau alat penyiang lainnya.

Pengendalian hama dan penyakit tanaman tomat

Hama ulat yang menyerang tanaman muda dengan memotong batang dan tangkai adalah Agrotis ipsilon dapat disemprot dengan Hostathion 40 EC dan Dursban 20 ES. Hama Heliothis armigera yang menyerang buah menjadi bolong dapat diberantas dengan menggunakan Diasenon 60 EC. Rhizoktonia sp dan Pythium sp yang menyerang pesemaian dapat diberantas dengan Dhitane M-45. Penyakit busuk daun (Phytopthorasp) dapat diberantas dengan bubur bordeux. Penyakit layu dan virus keriting dikendalikan dengan mencabut tanaman yang terserang penyakit lalu dibakar.

Panen Tomat

Panen tomat dilakukan sesuai dengan tujuan pemasarannya sehingga perlu diperhitungkan lama perjalanan sampai di tujuan. Sebaiknya tomat berada di pasaran pada saat masak penuh, tetapi tidak terlalu masak atau busuk. Pada saat masak penuh itulah tomat memperlihatkan penampilannya yang terbaik. Jika tujuan pemasaran adalah pasar lokal yang jaraknya tidak begitu jauh, dapat ditempuh dalam beberapa jam, panen sebaiknya dilakukan sewaktu buah masih berwarna kekuning-kuningan. Sedangkan untuk pemasaran ke tempat yang jauh atau untuk di ekspor, buah sebaiknya dipetik sewaktu masih berwarna hijau, tetapi sudah tua benar. Atau 8-10 hari sebelum menjadi masak (berwarna merah). Umur petik tergantung varietas tomat yang ditanam dan kondisi tanaman. Umumnya buah tomat dapat dipanen pertama pada waktu berumur 2 atau 3 bulan setelah tanam. Panen dilakukan beberapa kali, yaitu antara 10-15 kali pemetikan buah dengan selang 2-3 hari sekali. Pemetikan dapat dilakukan pagi atau sore hari. Dan, diusahakan buah yang dipetik tidak jatuh atau terluka. Karena hal ini dapat menurunkan kualitas dan dapat menjadi sumber masuknya bibit penyakit.

01 Oktober 2009

Pengendalian Hama Terpadu

Pengendalian Tikus Sawah (Ratus-ratus argentiiventuer)

Dengan Perangkap Bubu

Oleh Ahmad Sarbini

Pendahuluan

Dalam proses budi daya pertanian tidak terlepas dari apa yang namanya Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), kerugian akibat serangan hama bisa mencapai 37 %, penyakit 35 %, gulma 29 %, dan bahkan akibat yang di timbulkan oleh serangan hama tikus bisa menyebabkan gagal panen (puso).

Pengendalian OPT bertujuan untuk mempertahankan produksi pertanian agar produksi tetap optimal, pengendalian hama adalah usaha –usaha manusia untuk menekan populasi hama sampai dibawah ambang batas yang merugikan secara ekonomi. Pengendalian dapat dilakukan dengan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yaitu memilih suatu cara atau menggabungkan beberapa cara pengendalian, sehingga tidak merugikan secara ekonomis, biologi dan ekologi. Dengan tingkat kesadaran yang tinggi tentang lingkungan yang sehat dan pertnian yang berkelanjutan diperlikan cara pengendalian yang tepat.

Perangkap bubu termasuk kedalam komponen pengendalian fisik dan mekanik, yang merupakan teknik pengendalian yang palong kuno, dilakukan oleh manusia sejak manusia mengusahakan pertanian. Pengendalian fisik dan mekanik merupakan tindakan yang dilakukan dengan tujuan secara langsung dan tidak langsung, mematikan, mengganggu aktivitas dan merubah lingkungan sedemikian rupa sehingga lingkungan menjadi tidak sesuai bagi kehidupan hama. Pengendalian dengan perangkap bubu aman akan kesehatan manusia dan lingkungan karena tanpa menggunakan bahan kimia yang berbahaya.

Pengendalian hama dengan penghalang/pagar atau barier adalah berbagai ragam factor fisik yang dapat menghalangi atau membatasi pergerakan hyama sehingga tidak menjadi masalah bagi petani. Cara ini menekankan aspek pencegahan terhadap hama yang dating atau yang menyerang, macam penghalang seperti pematang yang tinggi, lobang atau selokan jebakan, parit berisi air, pagar terbuat dari seng, atau lembaran plastic yang dipasang keliling.

Pengendalian dengan perangkap terhadap hama adalah mengupayakan hama bisa masuk/ tertangkap dalam jebakan, sehingga tidak bisa keluar lagi. Macam perangkap bisa dengan zat-zat penarik dari tumbuhan / sintetik sepertieugenol yang dipasang pada aqua untuk menarikdan memangkap hama lalat buah, dengan lubang bubu untuk menangkap hama tikus.

Hama tikus memiliki kelebihan-kelebihan dibandingkan dengan hama yang lain-

Ø Mempunyai mobilitas

Ø Mempunyai kemampuan merusak yang besar dalam waktu relative singkat

Ø Tidak mudah percaya pada benda-benda yang tidak bisa mereka kenal

Ø Cerdik dalam menaggapi sesuatu.

Tikus merupakan binatang mengerat yang sering menimbulkan kerusakan baik dirumah, digudang diladang maupun disawah bahkan ada jenis tikus yang merusak pada tanaman di pohon. Berdasarkan habitat tempat hidupnya tikus dikelompokkan menjadi tiga yaitu :

Tikus sawah : ekor lebih panjang dari pada tubuh dan kepala, jumlah putting 12, warna bulu putih keabuan, habitat disawah /ditanggul-tanggul, telapak kaki 2 oasang terpisah satu pasang tidak pada telapak kaki depan.

Tikus rumah : ekor sama dengan tikus rumah, jumlah putting susu 10, warna putih kehitaman, habitat ruamg tertutup di gudang/rumah, telapak kaki 3 pasang berbantl terpisah.

Tikus pohon : hamper sama dengan tikus rumah, jumlah putting susu 10, warna putih keabuan, habitat dipohon/lading.

Pengendalian hama tikus dengan perangkap bubu.

Perangkap bubu merupakan satu cara pengendalian komponen fisik dan mekanis, tekni ini merupakan gabungan dari penghalang Barier dan perangkap. Perangkap dibuat sedemikian rupa meniru bubu perngakap ikan, begitu tikus masuk makan tidak bisa keluar lagi.

Bahan

Kawat strimin (lubang 1 cm), kawat strimin (lubang 0,5 cm), kawat besar Diameter 3-4 mm, kawat kecil diameter 1 mm, plastic putih yang tembus cahaya 14 %, kayu reng ukuran 2×3 cm tinggi 1 meter.

Cara membuatnya

1. Kawat besar 3-4 mm dibuat kerangka panjang 40 cm lebat dan tinggi 25 cm.

2. Kawat Strimin lubang1 cm di bentuk kotak sesuai dengan kerangka no 1

3. Strimin lubang 0,5 cmdibuat selongsong dengan ukuran disesuaikan dengan lubang pada liang tikus pada bagian ujung mengerucut panjang 25 cm

4. Selongsong no 3 dipasang oada salah satu sisi yang ukuranya 25 cm dengan bagian ujung diposisikan pada tengah-tengah kotak strimin

5. Semua pertemuan kawat kerangka dengan kawat strimin diikat dengan kawat strimin diameter 1 mm

6. Dibuat jendela pada salah satu sisi untuk mengeluarkan tikus yang tertangkap.

Cara memasangnya

1. Pemasangan pagar barier dari plastic degan menggunakan tiang dari kayu reng

2. Bentangkan plastic gara hasilnya lebih tegak, maka dibuat lebar /tinggi 70 cm diatas tanah dan dibenamkan 25 cm jarak antara tiang 2 meter yang ditancapkan pada tanah

3. Setelah plastic terpasang mengelilingi petakan , plastic tersebut diberi lubang yang disamakan dengan lubang selongsong bubu dan dipilih tempat dimana tikusss sering lewat

4. Bubu di pasag pada bentangan plastic yang telah di lubangi jarak antar bubu 20 meter dan bubu diletakan pada bagian dalam pagar plastic

5. Diharapkan tikus yang akan masuk kepetakan dapat tertangkap dan juga dipasang pada bagian luar diharapkan apabila tikus yang mau keluar bisa tertangklap pula.

Cara pengefektifkan perangkap bubu

1. Perangkap bubu dipasang poada tempat dimana tikus sering lewat

2. Dilakukan pengamatan setiap pagi hari

3. Lakukan pengecekan dilahan karena perangkapbisa bergeser

4. Bahan pembuat perangkap harus dipilih bahan yang kuat

5. Pemasangan perangkap harus seawall mungkin

6. Dilaksanakan secara luas dan seimbang

7. Dikombinasikan dengan pengendalian hama yang lain dalam rangka PHT.

Sumber

Serech, 2006. Majalah Kampus Cultivar Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Yogyakarta , yogyakarta

Suharno, 2005. Perlindungan Tanaman. Diktat STPP, jurluhtan, yogyakarta

BIOTEKNOLOGI MIKROBA UNTUK PERTANIAN ORGANIK

RINGKASAN

Alasan kesehatan dan kelestarian alam menjadikan pertanian organik sebagai salah satu alternatif pertanian modern. Pertanian organik mengandalkan bahan-bahan alami dan menghindari input bahan sintetik, baik berupa pupuk, herbisida, maupun pestisida sintetik. Namun, petani sering mengeluhkan hasil pertanian organik yang produktivitasnya cenderung rendah dan lebih rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Masalah ini sebenarnya bisa diatasi dengan memanfaatkan bioteknologi berbasis mikroba yang diambil dari sumber-sumber kekayaan hayati.

Tanah sangat kaya akan keragaman mikroorganisme, seperti bakteri, aktinomicetes, fungi, protozoa, alga dan virus. Tanah pertanian yang subur mengandung lebih dari 100 juta mikroba per gram tanah. Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba tersebut. Sebagian besar mikroba tanah memiliki peranan yang menguntungan bagi pertanian, yaitu berperan dalam menghancurkan limbah organik, re-cycling hara tanaman, fiksasi biologis nitrogen, pelarutan fosfat, merangsang pertumbuhan, biokontrol patogen dan membantu penyerapan unsur hara. Bioteknologi berbasis mikroba dikembangkan dengan memanfaatkan peran-peran penting mikroba tersebut.



Teknologi Kompos Bioaktif

Salah satu masalah yang sering ditemui ketika menerapkan pertanian organik adalah kandungan bahan organik dan status hara tanah yang rendah. Petani organik mengatasi masalah tersebut dengan memberikan pupuk hijau atau pupuk kandang. Kedua jenis pupuk itu adalah limbah organik yang telah mengalami penghacuran sehingga menjadi tersedia bagi tanaman. Limbah organik seperti sisa-sisa tanaman dan kotoran binatang ternak tidak bisa langsung diberikan ke tanaman. Limbah organik harus dihancurkan/dikomposkan terlebih dahulu oleh mikroba tanah menjadi unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman. Proses pengkomposan alami memakan waktu yang sangat lama, berkisar antara enam bulan hingga setahun sampai bahan organik tersebut benar-benar tersedia bagi tanaman.

Proses pengomposan dapat dipercepat dengan menggunakan mikroba penghancur (dekomposer) yang berkemampuan tinggi. Penggunaan mikroba dapat mempersingkat proses dekomposisi dari beberapa bulan menjadi beberapa minggu saja. Di pasaran saat ini banyak tersedia produk-produk biodekomposer untuk mempercepat proses pengomposan, misalnya: SuperDec, OrgaDec, EM4, EM Lestari, Starbio, Degra Simba, Stardec, dan lain-lain.

Kompos bioaktif adalah kompos yang diproduksi dengan bantuan mikroba lignoselulolitik unggul yang tetap bertahan di dalam kompos dan berperan sebagai agensia hayati pengendali penyakit tanaman. SuperDec dan OrgaDec, biodekomposer yang dikembangkan oleh Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI), dikembangkan berdasarkan filosofi tersebut. Mikroba biodekomposer unggul yang digunakan adalah Trichoderma pseudokoningii , Cytopaga sp, dan fungi pelapuk putih. Mikroba tersebut mampu mempercepat proses pengomposan menjadi sekitar 2-3 minggu. Mikroba akan tetap hidup dan aktif di dalam kompos. Ketika kompos tersebut diberikan ke tanah, mikroba akan berperan untuk mengendalikan organisme patogen penyebab penyakit tanaman.

Biofertilizer

Petani organik sangat menghindari pemakaian pupuk kimia. Untuk memenuhi kebutuhan hara tanaman, petani organik mengandalkan kompos sebagai sumber utama nutrisi tanaman. Sayangnya kandungan hara kompos rendah. Kompos matang kandungan haranya kurang lebih : 1.69% N, 0.34% P2O5, dan 2.81% K. Dengan kata lain 100 kg kompos setara dengan 1.69 kg Urea, 0.34 kg SP 36, dan 2.18 kg KCl. Misalnya untuk memupuk padi yang kebutuhan haranya 200 kg Urea/ha, 75 kg SP 36/ha dan 37.5 kg KCl/ha, maka membutuhkan sebanyak 22 ton kompos/ha. Jumlah kompos yang demikian besar ini memerlukan banyak tenaga kerja dan berimplikasi pada naiknya biaya produksi.

Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman, yaitu Nitrogen (N), fosfat (P), dan kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Hara N tersedia melimpah di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Namun, N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. N harus ditambat oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacang-kacangan ( leguminose ). Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman.

Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman, karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain: Aspergillus sp, Penicillium sp, Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K.

Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer, yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp.

Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman, antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp.

Mikroba-mikroba bermanfaat tersebut diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai biofertilizer. Hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat mensuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. Biofertilizer yang tersedia di pasaran antara lain: Emas, Rhiphosant, Kamizae, OST dan Simbionriza.

Agen Biokontrol

Hama dan penyakit merupakan salah satu kendala serius dalam budidaya pertanian organik. Jenis-jenis tanaman yang terbiasa dilindungi oleh pestisida kimia, umumnya sangat rentan terhadap serangan hama dan penyakit ketika dibudidayakan dengan sistim organik. Alam sebenarnya telah menyediakan mekanisme perlindungan alami. Di alam terdapat mikroba yang dapat mengendalikan organisme patogen tersebut. Organisme patogen akan merugikan tanaman ketika terjadi ketidakseimbangan populasi antara organisme patogen dengan mikroba pengendalinya, di mana jumlah organisme patogen lebih banyak daripada jumlah mikroba pengendalinya. Apabila kita dapat menyeimbangakan populasi kedua jenis organisme ini, maka hama dan penyakit tanaman dapat dihindari.

Mikroba yang dapat mengendalikan hama tanaman antara lain: Bacillus thurigiensis (BT), Bauveria bassiana , Paecilomyces fumosoroseus, dan Metharizium anisopliae . Mikroba ini mampu menyerang dan membunuh berbagai serangga hama. Mikroba yang dapat mengendalikan penyakit tanaman misalnya: Trichoderma sp yang mampu mengendalikan penyakit tanaman yang disebabkan oleh Gonoderma sp, JAP (jamur akar putih), dan Phytoptora sp. Beberapa biokontrol yang tersedia di pasaran antara lain: Greemi-G, Bio-Meteor, NirAma, Marfu-P dan Hamago.

Aplikasi pada Pertanian Organik

Produk-produk bioteknologi mikroba hampir seluruhnya menggunakan bahan-bahan alami. Produk ini dapat memenuhi kebutuhan petani organik. Kebutuhan bahan organik dan hara tanaman dapat dipenuhi dengan kompos bioaktif dan aktivator pengomposan. Aplikasi biofertilizer pada pertanian organik dapat mensuplai kebutuhan hara tanaman yang selama ini dipenuhi dari pupuk-pupuk kimia. Serangan hama dan penyakit tanaman dapat dikendalikan dengan memanfaatkan biokotrol.

Petani Indonesia yang menerapkan sistem pertanian organik umumnya hanya mengandalkan kompos dan cenderung membiarkan serangan hama dan penyakit tanaman. Dengan tersedianya bioteknologi berbasis mikroba, petani organik tidak perlu kawatir dengan masalah ketersediaan bahan organik, unsur hara, dan serangan hama dan penyakit tanaman.

Penulis:

Isroi, S.Si, M.Si
Peneliti Mikroba
Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia
Lembaga Riset Perkebunan Indonesia
Jalan Taman Kencana No. 1 Bogor 16151
Telp. 0251 324048/327449
Fax. 0251 328516
Email: ipardboo@indo.net.id ; isroi@ipard.com

Gambar 1. Endomikoriza yang berperan melarutkan P

Gambar 2. Larva serangga yang mati diserang jamur biokontrol

Gambar 3. Bakteri yang unggul dalam melarutkan fosfat

Gambar 4. Jamur yang unggul dalam melarutkan fosfat